Jumat, 18 Desember 2009

cara posting

1. sign in ke www.blogger.com lalu masuk ke blog kita.
2. klik new post
3. isi postingnya
4. klik save now
5. klik publish post
6. klik view blog untuk melihat isi posting
7. jika kembali ke blog klik kustomisasi.

Selasa, 24 November 2009

EKONOMI INDONESIA

Ekonomi Indonesia

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Langsung ke: navigasi, cari
Ekonomi Indonesia
Mata uang Rupiah
Tahun fiskal Tahun kalender
Organisasi perdagangan APEC, ASEAN, WTO
Statistik [1]
Peringkat PDB ke-15
PDB $863,6 milyar (2005)
Pertumbuhan PDB 4,8% (2004)
PDB per kapita $3.200 (2004)
PDB berdasarkan sektor pertanian (16.6%), industri (43.6%), jasa (39.9%) (2004)
Inflasi 6.6% (2004)
Pop di bawah garis kemiskinan 8.% (1998)
Tenaga kerja 105,7 juta (2004)
Tenaga kerja berdasarkan pekerjaan produksi 46%, pertanian 16%, jasa 39% (1999)
Pengangguran 8.7% (2004)
Industri utama minyak bumi dan gas alam; tekstil, perlengkapan, dan sepatu; pertambangan, semen, pupuk kimia, plywood; karet; makanan; pariwisata
Perdagangan Internasional[2]
Ekspor $113,99 milyar (2007)
Komoditi utama minyak dan gas, plywood, tekstil, karet
Mitra dagang Jepang 22,3%, Amerika Serikat 12,1%, Singapura 8,9%, Korea Selatan 7,1%, Cina 6.2% (2003)
Impor $74,40 milyar (2007)
Komoditi utama mesin dan peralatan; kimia, bahan bakar, makanan
Mitra dagang Jepang 13%, Singapura 12,8%, Cina 9,1%, Amerika Serikat 8,3%, Thailand 5,2%, Australia 5,1%, Korea Selatan 4,7%, Arab Saudi 4,6% (2003)
Keuangan publik [3]
Utang pemerintah $454.3 milyar (56.2% dari GDP)
Pendapatan $40.91 milyar (2004)
Belanja $44,95 milyar (2004)
Bantuan ekonomi $43 milyar dari IMF (1997–2000)
Sunting

Indonesia memiliki ekonomi berbasis-pasar di mana pemerintah memainkan peranan penting. Pemerintah memiliki lebih dari 164 BUMN dan menetapkan harga beberapa barang pokok, termasuk bahan bakar, beras, dan listrik. Setelah krisis finansial Asia yang dimulai pada pertengahan 1997, pemerintah menjaga banyak porsi dari aset sektor swasta melalui pengambilalihan pinjaman bank tak berjalan dan asset perusahaan melalui proses penstrukturan hutang.

[sunting] Latar belakang

Selama lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto, ekonomi Indonesia tumbuh dari GDP per kapita $70 menjadi lebih dari $1.000 pada 1996. Melalui kebijakan moneter dan keuangan yang ketat, inflasi ditahan sekitar 5%-10%, rupiah stabil dan dapat diterka, dan pemerintah menerapkan sistem anggaran berimbang. Banyak dari anggaran pembangunan dibiayai melalui bantuan asing.

Pada pertengahan 1980-an pemerintah mulai menghilangkan hambatan kepada aktivitas ekonomi. Langkah ini ditujukan utamanya pada sektor eksternal dan finansial dan dirancang untuk meningkatkan lapangan kerja dan pertumbuhan di bidang ekspor non-minyak. GDP nyata tahunan tumbuh rata-rata mendekati 7% dari 1987-1997, dan banyak analisis mengakui Indonesia sebagai ekonomi industri dan pasar utama yang berkembang.

Tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dari 1987-1997 menutupi beberapa kelemahan struktural dalam ekonomi Indonesia. Sistem legal sangat lemah, dan tidak ada cara efektif untuk menjalankan kontrak, mengumpulkan hutang, atau menuntut atas kebangkrutan. Aktivitas bank sangat sederhana, dengan peminjaman berdasarkan-"collateral" menyebabkan perluasan dan pelanggaran peraturan, termasuk batas peminjaman. Hambatan non-tarif, penyewaan oleh perusahaan milik negara, subsidi domestik, hambatan ke perdagangan domestik, dan hambatan ekspor seluruhnya menciptakan gangguan ekonomi.

Krisis finansial Asia Tenggara yang melanda Indonesia pada akhir 1997 dengan cepat berubah menjadi sebuah krisis ekonomi dan politik. Respon pertama Indonesia terhadap masalah ini adalah menaikkan tingkat suku bunga domestik untuk mengendalikan naiknya inflasi dan melemahnya nilai tukar rupiah, dan memperketat kebijakan fiskalnya. Pada Oktober 1997, Indonesia dan International Monetary Fund (IMF) mencapai kesepakatan tentang program reformasi ekonomi yang diarahkan pada penstabilan ekonomi makro dan penghapusan beberapa kebijakan ekonomi yang dinilai merusak, antara lain Program Permobilan Nasional dan monopoli, yang melibatkan anggota keluarga Presiden Soeharto. Rupiah masih belum stabil dalam jangka waktu yang cukup lama, hingga pada akhirnya Presiden Suharto terpaksa mengundurkan diri pada Mei 1998. Di bulan Agustus 1998, Indonesia dan IMF menyetujui program pinjaman dana di bawah Presiden B.J Habibie. Presiden Gus Dur yang terpilih sebagai presiden pada Oktober 1999 kemudian memperpanjang program tersebut.


[sunting] Kajian Pengeluaran Publik

Sejak krisis keuangan Asia di akhir tahun 1990-an, yang memiliki andil atas jatuhnya rezim Suharto pada bulan Mei 1998, keuangan publik Indonesia telah mengalami transformasi besar. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kontraksi ekonomi yang sangat besar dan penurunan yang sejalan dalam pengeluaran publik. Tidak mengherankan utang dan subsidi meningkat secara drastis, sementara belanja pembangunan dikurangi secara tajam.

Saat ini, satu dekade kemudian, Indonesia telah keluar dari krisis dan berada dalam situasi dimana sekali lagi negara ini mempunyai sumber daya keuangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pembangunan. Perubahan ini terjadi karena kebijakan makroekonomi yang berhati-hati, dan yang paling penting defisit anggaran yang sangat rendah. Juga cara pemerintah membelanjakan dana telah mengalami transformasi melalui "perubahan besar" desentralisasi tahun 2001 yang menyebabkan lebih dari sepertiga dari keseluruhan anggaran belanja pemerintah beralih ke pemerintah daerah pada tahun 2006. Hal lain yang sama pentingnya, pada tahun 2005, harga minyak internasional yang terus meningkat menyebabkan subsidi minyak domestik Indonesia tidak bisa dikontrol, mengancam stabilitas makroekonomi yang telah susah payah dicapai. Walaupun terdapat risiko politik bahwa kenaikan harga minyak yang tinggi akan mendorong tingkat inflasi menjadi lebih besar, pemerintah mengambil keputusan yang berani untuk memotong subsidi minyak.

Keputusan tersebut memberikan US$10 milyar [4] tambahan untuk pengeluaran bagi program pembangunan. Sementara itu, pada tahun 2006 tambahan US$5 milyar [5] telah tersedia berkat kombinasi dari peningkatan pendapatan yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang stabil secara keseluruhan dan penurunan pembayaran utang, sisa dari krisis ekonomi. Ini berarti pada tahun 2006 pemerintah mempunyai US$15 milyar [6] ekstra untuk dibelanjakan pada program pembangunan. Negara ini belum mengalami 'ruang fiskal' yang demikian besar sejak peningkatan pendapatan yang dialami ketika terjadi lonjakan minyak pada pertengahan tahun 1970an. Akan tetapi, perbedaan yang utama adalah peningkatan pendapatan yang besar dari minyak tahun 1970-an semata-mata hanya merupakan keberuntungan keuangan yang tak terduga. Sebaliknya, ruang fiskal saat ini tercapai sebagai hasil langsung dari keputusan kebijakan pemerintah yang hati hati dan tepat.

Walaupun demikian, sementara Indonesia telah mendapatkan kemajuan yang luar biasa dalam menyediakan sumber keuangan dalam memenuhi kebutuhan pembangunan, dan situasi ini dipersiapkan untuk terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang, subsidi tetap merupakan beban besar pada anggaran pemerintah. Walaupun terdapat pengurangan subsidi pada tahun 2005, total subsidi masih sekitar US$ 10 milyar [7] dari belanja pemerintah tahun 2006 atau sebesar 15 persen dari anggaran total.

Berkat keputusan pemerintahan Habibie (Mei 1998 - Agustus 2001) untuk mendesentralisasikan wewenang pada pemerintah daerah pada tahun 2001, bagian besar dari belanja pemerintah yang meningkat disalurkan melalui pemerintah daerah. Hasilnya pemerintah propinsi dan kabupaten di Indonesia sekarang membelanjakan 37 persen [8] dari total dana publik, yang mencerminkan tingkat desentralisasi fiskal yang bahkan lebih tinggi daripada rata-rata OECD.

Dengan tingkat desentralisasi di Indonesia saat ini dan ruang fiskal yang kini tersedia, pemerintah Indonesia mempunyai kesempatan unik untuk memperbaiki pelayanan publiknya yang terabaikan. Jika dikelola dengan hati-hati, hal tersebut memungkinkan daerah-daerah tertinggal di bagian timur Indonesia untuk mengejar daerah-daerah lain di Indonesia yang lebih maju dalam hal indikator sosial. Hal ini juga memungkinkan masyarakat Indonesia untuk fokus ke generasi berikutnya dalam melakukan perubahan, seperti meningkatkan kualitas layanan publik dan penyediaan infrastruktur seperti yang ditargetkan. Karena itu, alokasi dana publik yang tepat dan pengelolaan yang hati-hati dari dana tersebut pada saat mereka dialokasikan telah menjadi isu utama untuk belanja publik di Indonesia kedepannya.

Sebagai contoh, sementara anggaran pendidikan telah mencapai 17.2 persen [9] dari total belanja publik- mendapatkan alokasi tertinggi dibandingkan sektor lain dan mengambil sekitar 3.9 persen [10] dari PDB pada tahun 2006, dibandingkan dengan hanya 2.0 persen dari PDB pada tahun 2001[11] - sebaliknya total belanja kesehatan publik masih dibawah 1.0 persen dari PDB [12]. Sementara itu, investasi infrastruktur publik masih belum sepenuhnya pulih dari titik terendah pasca krisis dan masih pada tingkat 3.4 persen dari PDB [13]. Satu bidang lain yang menjadi perhatian saat ini adalah tingkat pengeluaran untuk administrasi yang luar biasa tinggi. Mencapai sebesar 15 persen pada tahun 2006 [14], menunjukkan suatu penghamburan yang signifikan atas sumber daya publik.

Senin, 05 Oktober 2009

gempa.......................!!!???

Penyaluran Bantuan Gempa Kerinci Kacau
Senin, 05 Oktober 2009 01:47 WIB 0 Komentar
Penyaluran Bantuan Gempa Kerinci Kacau

ANTARA

KERINCI-MI: Penyaluran bantuan terhadap korban gempa di empat kecamatan yang dilanda gempa di Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi mulai kacau dan saling mencurigai antara desa sasaran yang terkena musibah.

Lokasi terparah guncangan gempa pada 7,0 SR melanda Kerinci pada Kamis (1/10) adalah Desa Lolo Gedang dan Pasar Kerman, tapi desa itu hanya tempat penyerahan bantuan secara simbolis saja, namun bantuan disalurkan di Desa Lempur ibukota Kecamatan Gunung Raya, kata Ketua Posko bantuan Desa Lolo Gedang -Pasar Kerman, Hakim SH, di lokasi musibah gempa Desa Lolo Gedang, Minggu (4/10).

Para donatur yang menyerahkan bantuan simbolis di dua desa itu mulai dari bantuan Pemprov Jambi, Pemkab Kerinci, unsur muspida sampai perusahaan besar di Provinsi Jambi.

Dia mengatakan, usai bantuan itu diserahkan secara simbolis oleh petugas, lalu dibongkar di Desa Lempur berjarak tiga kilometer dari Desa Lolo Gedang.

Hal itu sudah berjalan sejak hari kedua musibah terjadi, namun para korban gempa di Lolo Gedang dan Pasar Kerman sampai sekarang belum mencicipi bantuan tersebut.

"Kami tidak tahu bantuan yang ditumpuk di desa Lempur itu mau dibagikan ke mana, sedangkan petugas posko Lolo Gedang hanya sekadar menerima saja," kata Hakim.

Bantuan yang dikonsumsi oleh korban gempa di Desa Lolo Gedang dan Pasar Kerman sekarang adalah dari donatur yang langsung menyerahkannya kepada korban, bukan bantuan yang dialokasikan di Desa Lempur itu.

"Kami mengimbau para dermawan dan organisasi-organisasi kemanusiaan yang berminat untuk membantu korban gempa di dua desa yaitu Lolo Gedang dan Pasar Kerman, agar menyerahkan langsung kepada warga, karena mereka saat ini amat membutuhkannya," jelasnya.

Dia menjelaskan, bantuan para dermawan yang lewat posko seluruhnya langsung di salurkan kepada korban baik dalam bentuk supermi, minyak goreng, beras, sarden, tenda dan obat-obatan termasuk tali tenda juga sudah disalurkan kepada korban yang sangat membutuhkan.

Korban yang berhak menerima bantuan itu sebelumnya dilakukan survei ke lapangan bersama tim terpadu termasuk LSM, tokoh masyarakat dan aparat terkait.

Selain itu, warga yang bukan korban gempa tidak diperbolehkan mencegat penyaluran bantuan atau meminta-minta di pinggir jalan, karena akan mengganggu konsentrasi pemberi bantuan, ujarnya.

Kepala Desa Lolo Gedang Kamil, mengatakan, 856 jiwa warganya yang terkena musibah gempa sampai sekarang belum bisa mencari nafkah, karena masih trauma terlebih rumahnya hancur dan bahkan rusak total.

Para korban gempa itu masih tinggal di tenda, dan membutuhkan bantuan dari para dermawan, karena persediaan pangan sudah menipis, sedangkan bantuan dari pemerintah belum juga tiba. (Ant/OL-7)

Senin, 07 September 2009

THR (TugAs hArI RaYa)

Semoga bermanfaat...

Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks!


> Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya

> bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di

> wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap

> kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu

> kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru

> nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi,

> di hari itu segenap mata tak kuasa membendung

> airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu,

> langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis

> kecil di tepi jalan. "Gerangan apakah yang membuat

> engkau menangis anakku?" lembut menyapa suara itu

> menahan beberapa detik segukan sang gadis.

>

> Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang

> menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu

> seperti mencari sesosok yang amat ia rindui

> kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia

> menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk

> merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam

> sebuah peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis

> kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya

> tentang Ayahnya.

>

> Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu.

> "Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu,

> Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai

> pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?"

> Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi

> berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah

> SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak

> yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki

> paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?

>

> Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis

> kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum.

> Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta

> dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak

> yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke

> rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah

> sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam

> baginya.

> Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian

> bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat

> bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak

> dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat

> kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya.

> Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa

> Rasul pun memakai pakaian yang bagus di hari raya.

> Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut

> lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu

> stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi

> silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari

> satu hari.

>

> Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu,

> ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari

> kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang

> lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya

> kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan

> menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena,

> bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara

> berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan,

> yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan

> pakaian yang lebih pantas di hari istimewa.

>

> Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju

> yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu

> dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan

> betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti

> mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang

> akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim?

> Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka

> menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang

> mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka

> berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan

> anak-anak lain berbaju baru, sementara baju yang

> mereka kenakan sudah usang.

>

> Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran,

> tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju

> bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan

> Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan

> hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim.

> Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?

>

> Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk

> anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari

> rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja

> pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak

> yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya

> tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu

> juga milik mereka.

>

> Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul).

> Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang

> melakukannya di berbagai tempat. Namun jika lebih

> banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang

> mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum

> anak yatim yang tercipta di hari bahagia.



Tradisi lebaran bagi anak2 diberbagai negara umumnya hampir sama. Memberikan sesuatu

yang special dan istimewa untuk anak2. Disini karena beberapa tetangga dari berbagai negara,

beberapa ibu menerapkan tardisi dinegaranya.

Menurut Tante Efsun yang turkiesh, Di turkey, lebaran ini disebut Sugar Day, karena pada hari

itu anak-anak diberikan dan dibolehkan makan makanan yang mengandung gula alias nu

manis2 terutama candy2. Dan pada hari Lebaran kemaren, Tante Efsun keliling rumah2 anak2

keluarga muslim ngasih bingkisan. Tapi katanya khusus untuk Raka dan Rai beliau kasih Buku

dan Puzzle, Makasih tante.

Kata Ua Chona (philipin), anak-anak diberikan hadiah pada hari Istimewa dan Hari Besar. Dan

beliau ngasih Orka si Shark yang guede banget, karena gede cukup dipeluk Rai Raka

barengan. Nuhun Ua.

Kata Tante Sawsan yang orang Yordan, lebaran disana juga anak2 hepi karena banyak

makanan yang hari2 biasanya gak ada dan gak boleh, hari itu banyak dan khusus untuk

mereka, candy dan cokelat. So...Rai Raka dapat coklat yang dijatah ibunya hihi

maaf...satu-satu ya nak!

Dua hari sebelum lebaran, Nenek Mickey (American) dateng ke rumah ngasih hadiah lebaran

untuk anak-anak dan ibunya. Raka dapat marble Run, Rai dapat Magnetical Aplhabet ditambah

rug mainan. Ibunya dapat seperangkat perlengkapan makan, cake coklat, apel dan cake durian.

Beliau gak bisa dateng hari H karena mau ke rumah satunya lagi di Florida sana, nengok

setelah hurricane. Makasih ya Nek...dan Hati-hati!!

Nah karena tradisi di kampung sayah sisi Garut sonoohhhh, berbagi makanan ya makanan

untuk anak2 ataupun makanan besar. Jadi begitu juga yang saya lakukan disini, anter2 sedikit

makanan sama beberapa tetangga. Gak ada tradisi amplop sih, gak dibiasakan tuman hihi.

Eh jadi inget tradisi hantar-hantaran ini, sehabis sholat sunat setelah bersilaturahmi ke

sodara-sodara, saya yang bertugas mengantar2kan makanan. Dijalan bersliweran orang

dengan jinjingan rantang atau baki yang ditutup koran. Jenis makanan yang dihantarkan hampir

sama, nasi, opor ayam, lapis daging, sambel grg kentang, ace cabe ijo, kue2. Dan kadang suka

ketuker2 makanan buat tetangga ini dihantarkan ke tetangga itu. Bahkan saya pernah ngirim

dua kali ke tetangga yang sama hihi, sampe sama tetangga teh dibalikin lagi ke rumah. Itu

jaman2nya SD-SMA, setelah kuliah mah jadi pemalu di rumah sajah:P.