Rabu, 09 September 2009
Senin, 07 September 2009
THR (TugAs hArI RaYa)
Semoga bermanfaat...
Lebaran Cara Rasul, Ikuti Yuks!
> Fajar 1 Syawal menyingsing, menandai berakhirnya
> bulan penuh kemuliaan. Senyum kemenangan terukir di
> wajah-wajah perindu Ramadhan, sambil berharap
> kembali meniti Ramadhan di tahun depan. Satu persatu
> kaki-kaki melangkah menuju tanah lapang, menyeru
> nama Allah lewat takbir, hingga langit pun bersaksi,
> di hari itu segenap mata tak kuasa membendung
> airmata keharuan saat berlebaran. Sementara itu,
> langkah sepasang kaki terhenti oleh sesegukan gadis
> kecil di tepi jalan. "Gerangan apakah yang membuat
> engkau menangis anakku?" lembut menyapa suara itu
> menahan beberapa detik segukan sang gadis.
>
> Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang
> menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu
> seperti mencari sesosok yang amat ia rindui
> kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia
> menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk
> merayakan hari kemenangan. "Ayahku mati syahid dalam
> sebuah peperangan bersama Rasulullah," tutur gadis
> kecil itu menjawab tanya lelaki di hadapannya
> tentang Ayahnya.
>
> Seketika, lelaki itu mendekap gadis kecil itu.
> "Maukah engkau, seandainya Aisyah menjadi ibumu,
> Muhammad Ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai
> pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu?"
> Sadarlah gadis itu bahwa lelaki yang sejak tadi
> berdiri di hadapannya tak lain Muhammad Rasulullah
> SAW, Nabi anak yatim yang senantiasa memuliakan anak
> yatim. Siapakah yang tak ingin berayahkan lelaki
> paling mulia, dan beribu seorang Ummul Mukminin?
>
> Begitulah lelaki agung itu membuat seorang gadis
> kecil yang bersedih di hari raya kembali tersenyum.
> Barangkali, itu senyum terindah yang pernah tercipta
> dari seorang anak yatim, yang diukir oleh Nabi anak
> yatim. Rasulullah membawa serta gadis itu ke
> rumahnya untuk diberikan pakaian bagus, terbasuhlah
> sudah airmata. Lelaki agung itu, shalawat dan salam
> baginya.
> Lebaran, bagi kita sangat identik dengan pakaian
> bagus. Tak harus baru, setidaknya layak dipakai saat
> bersilaturahim di hari kemenangan itu. Namun tak
> dapat dipungkiri, bagi sebagian besar masyarakat
> kita, memakai pakaian baru sudah menjadi budaya.
> Mungkin budaya ini merujuk pada kisah di atas, bahwa
> Rasul pun memakai pakaian yang bagus di hari raya.
> Tidak sedikit uang yang dikeluarkan untuk menyambut
> lebaran, bahkan bagi sebagian orang, tak cukup satu
> stel pakaian baru disiapkan, mengingat tradisi
> silaturahim berlebaran di Indonesia yang lebih dari
> satu hari.
>
> Tak ada yang salah dengan budaya baju baru itu,
> ambil sisi positifnya saja, bahwa keceriaan hari
> kemenangan bolehlah diwarnai dengan penampilan yang
> lebih baik. Sekaligus mencerminkan betapa bahagianya
> kita menggapai sukses penuh arti selama satu bulan
> menjalani Ramadhan. Baju baru bukan cuma fenomena,
> bahkan sudah menjadi budaya. Tetapi ada cara
> berlebaran Rasulullah yang tak ikut kita budayakan,
> yakni menceriakan anak yatim dengan memberikan
> pakaian yang lebih pantas di hari istimewa.
>
> Anak-anak kita bangga menghitung celana dan baju
> yang baru saja kita belikan. Tak ketinggalan sepatu
> dan sandal yang juga baru. Dapatlah kita bayangkan
> betapa cerianya mereka saat berlebaran nanti
> mengenakan pakaian bagus itu. Tapi siapakah yang
> akan membelikan pakaian baru untuk anak-anak yatim?
> Tak ada Ayah atau Ibu yang akan mengajak mereka
> menyambangi pertokoan dan memilih pakaian yang
> mereka suka. Dapatkah kita bayangkan perasaan mereka
> berada di tengah-tengah riuh rendah keceriaan
> anak-anak lain berbaju baru, sementara baju yang
> mereka kenakan sudah usang.
>
> Rasulullah tak hanya berbaju bagus saat berlebaran,
> tetapi juga mengajak seorang anak yatim ikut berbaju
> bagus, sehingga nampak tak berbeda dengan Hasan dan
> Husain. Lelaki agung itu, tahu bagaimana menjadikan
> hari raya juga istimewa bagi anak-anak yatim.
> Mampukah kita meniru cara Rasul berlebaran?
>
> Kalau kita mampu membeli beberapa stel pakaian untuk
> anak-anak kita, adakah sedikit yang tersisihkan dari
> rezeki yang kita dapat untuk membeli satu saja
> pakaian bagus untuk pantas dipakai oleh anak-anak
> yatim tetangga kita. Kebahagiaan 1 Syawal semestinya
> tak hanya milik anak-anak kita, hari istimewa itu
> juga milik mereka.
>
> Maka, ikuti yuks! Gerakan LCR (Lebaran Cara Rasul).
> Gerakan ini, saya yakin sudah banyak yang
> melakukannya di berbagai tempat. Namun jika lebih
> banyak lagi orang-orang beruntung seperti kita yang
> mau membudayakan LCR ini, akan lebih banyak senyum
> anak yatim yang tercipta di hari bahagia.
Tradisi lebaran bagi anak2 diberbagai negara umumnya hampir sama. Memberikan sesuatu
yang special dan istimewa untuk anak2. Disini karena beberapa tetangga dari berbagai negara,
beberapa ibu menerapkan tardisi dinegaranya.
Menurut Tante Efsun yang turkiesh, Di turkey, lebaran ini disebut Sugar Day, karena pada hari
itu anak-anak diberikan dan dibolehkan makan makanan yang mengandung gula alias nu
manis2 terutama candy2. Dan pada hari Lebaran kemaren, Tante Efsun keliling rumah2 anak2
keluarga muslim ngasih bingkisan. Tapi katanya khusus untuk Raka dan Rai beliau kasih Buku
dan Puzzle, Makasih tante.
Kata Ua Chona (philipin), anak-anak diberikan hadiah pada hari Istimewa dan Hari Besar. Dan
beliau ngasih Orka si Shark yang guede banget, karena gede cukup dipeluk Rai Raka
barengan. Nuhun Ua.
Kata Tante Sawsan yang orang Yordan, lebaran disana juga anak2 hepi karena banyak
makanan yang hari2 biasanya gak ada dan gak boleh, hari itu banyak dan khusus untuk
mereka, candy dan cokelat. So...Rai Raka dapat coklat yang dijatah ibunya hihi
maaf...satu-satu ya nak!
Dua hari sebelum lebaran, Nenek Mickey (American) dateng ke rumah ngasih hadiah lebaran
untuk anak-anak dan ibunya. Raka dapat marble Run, Rai dapat Magnetical Aplhabet ditambah
rug mainan. Ibunya dapat seperangkat perlengkapan makan, cake coklat, apel dan cake durian.
Beliau gak bisa dateng hari H karena mau ke rumah satunya lagi di Florida sana, nengok
setelah hurricane. Makasih ya Nek...dan Hati-hati!!
Nah karena tradisi di kampung sayah sisi Garut sonoohhhh, berbagi makanan ya makanan
untuk anak2 ataupun makanan besar. Jadi begitu juga yang saya lakukan disini, anter2 sedikit
makanan sama beberapa tetangga. Gak ada tradisi amplop sih, gak dibiasakan tuman hihi.
Eh jadi inget tradisi hantar-hantaran ini, sehabis sholat sunat setelah bersilaturahmi ke
sodara-sodara, saya yang bertugas mengantar2kan makanan. Dijalan bersliweran orang
dengan jinjingan rantang atau baki yang ditutup koran. Jenis makanan yang dihantarkan hampir
sama, nasi, opor ayam, lapis daging, sambel grg kentang, ace cabe ijo, kue2. Dan kadang suka
ketuker2 makanan buat tetangga ini dihantarkan ke tetangga itu. Bahkan saya pernah ngirim
dua kali ke tetangga yang sama hihi, sampe sama tetangga teh dibalikin lagi ke rumah. Itu
jaman2nya SD-SMA, setelah kuliah mah jadi pemalu di rumah sajah:P.



